Charger Curang yang Dipakai untuk Kampanye
Oleh: Jeffrie Gerry | Satire Monolog Studio
Rubrik: Etika Digital dan Kesadaran Politik
Meta deskripsi (SEO ringan):
Sebuah kisah reflektif dan absurd tentang charger ponsel yang curang di ruang sidang—simbol kampanye licik di era digital, dengan 12 langkah praktis menuju kesadaran politik dan etika digital.
Pengantar: Daya dari Colokan yang Salah
Ada hari-hari di mana kita mengisi baterai ponsel tapi justru kehilangan daya hidup. Di ruang sidang yang dingin itu—lampu neon memantulkan wajah-wajah lesu dan mata-mata yang berlagak netral—aku melihat charger di pojok meja saksi. Kabelnya berwarna putih, tapi arusnya hitam.
Counter HP menunjukkan indikator pengisian naik-turun tak wajar, seperti janji kampanye yang penuh getar palsu. Di layar, notifikasi muncul: “Mengisi daya melalui sumber tidak dikenal.”
Absurd, pikirku. Bahkan ponsel tahu kapan dia sedang dibohongi, sementara manusia justru senang menyalakan kebohongan lalu menuduhnya sebagai strategi.
1. Daya dan Janji yang Sama-Sama Tipis
Charger itu dipegang oleh seorang pengacara muda, wajahnya tenang seperti kaca baru dicuci. Ia menatap layar ponsel dengan senyum yang hanya separuh. “Baterai saya cepat habis,” katanya, “mungkin karena banyak aplikasi kampanye berjalan di latar belakang.”
Aku tertawa kecil. Di dunia absurd ini, bahkan aplikasi bisa berpolitik.
Namun siapa tahu, kampanye memang bukan lagi soal spanduk dan baliho—tapi soal siapa yang mencolok ke colokan publik tanpa izin.
2. Kita Hidup di Era Powerbank Retorika
George Orwell pernah menulis dalam Politics and the English Language (hal. 11):
“Bahasa politik dirancang untuk membuat kebohongan terdengar jujur, dan pembunuhan terdengar sopan.”
Kini, bahasa kampanye lebih ringan: tinggal “colok charger curang ke batin publik.” Kita diberi daya buatan—kata-kata manis yang terasa hangat lima menit, lalu drop tanpa sisa.
Seperti baterai 1% yang dipaksa streaming pidato satu jam.
3. Suasana: Counter HP di Ruang Sidang
Counter HP di depan mataku seperti saksi netral. Ia menghitung setiap persen naik-turun daya, seolah mengukur kadar kejujuran manusia di ruangan itu.
1%... 3%... lalu turun lagi ke 2%.
Seorang hakim mengetuk meja. “Saudara saksi, jangan main HP.”
Semua menunduk.
Tapi dalam hati, semua sedang mengisi daya ego masing-masing.
4. Absurd adalah Gaya Hidup Baru
Ada yang menyebut absurd itu penyakit, tapi bagiku ia justru tanda kewarasan.
Ketika logika tak mampu lagi menjelaskan kenapa charger bisa dipakai untuk kampanye, maka absurd hadir sebagai guru:
“Jangan terlalu percaya pada colokan gratis.”
Kita sering disuguhi daya dari orang-orang yang seolah peduli, padahal sekadar ingin “mendapat izin akses lokasi.”
5. 12 Langkah Praktis Menyadari Charger Curang
-
Lihat colokannya. Jika terlalu banyak janji LED, hati-hati—itu bukan cahaya kejujuran, tapi iklan terselubung.
-
Ukur panasnya. Jika charger mulai hangat sebelum terpasang, bisa jadi itu penuh niat politik.
-
Matikan sinyal jika ragu. Arus kampanye sering menyusup lewat jaringan Wi-Fi gratis.
-
Tanya pada hati, bukan hanya indikator. Tidak semua yang “terisi” berarti benar-benar bermanfaat.
-
Gunakan charger resmi. Dalam hidup, itu berarti memeriksa sumber informasi sebelum percaya.
-
Jangan pinjamkan colokanmu. Batas pribadi adalah filter terbaik terhadap manipulasi.
-
Baca manual kehidupan. Setiap kesadaran butuh panduan; bukan brosur kampanye.
-
Cabut jika panas. Jika percakapan mulai berbau pencitraan, berhenti.
-
Gunakan mode pesawat. Kadang kita perlu diam agar tidak ikut arus propaganda.
-
Periksa log daya. Refleksi harian: siapa saja yang sudah “menyedot energi”mu hari ini?
-
Rawat kabelmu. Etika digital dimulai dari kebiasaan kecil: kejujuran dalam penggunaan teknologi.
-
Isi ulang dengan doa dan humor. Keduanya daya tahan terbaik terhadap kebohongan sistemik.
6. Saat Politik Menyamar Jadi Teknologi
Kampanye sekarang tak lagi butuh panggung, cukup colokan dan algoritma.
Seseorang bisa mengisi daya batin publik hanya dengan mengatur urutan trending topic.
Tapi seperti charger curang, hasilnya cepat panas, cepat drop, dan kadang membakar port nurani.
Y.B. Mangunwijaya menulis dalam Sastra dan Religiositas (hal. 87):
“Manusia kehilangan arah ketika alat menjadi tujuan, bukan perantara menuju makna.”
Mungkin itulah tragedi paling absurd: ketika charger—benda sekecil itu—menjadi simbol besar dari cara kita menyedot energi publik tanpa izin moral.
7. Antara Kabel Data dan Kabel Nurani
Kabel data menghubungkan perangkat. Kabel nurani menghubungkan manusia.
Yang pertama cepat rusak kalau sering ditekuk.
Yang kedua hancur kalau sering dipelintir demi kepentingan kampanye.
Di ruang sidang itu, aku melihat seseorang menatap ponselnya dengan khusyuk seperti sedang berdoa. Mungkin dia sedang menunggu daya naik, atau menunggu perintah dari “pusat”.
Absurd lagi.
Dunia ini semakin digital, tapi juga semakin spiritual—sayangnya dalam arah yang terbalik.
8. Saat Logika Menyerah pada Notifikasi
Rasanya lucu: manusia berdebat keras tentang integritas, tapi begitu notifikasi “baterai lemah” muncul, semua berubah lembut.
Charger curang tak lagi jadi masalah, asal baterai naik.
Kita belajar kompromi sejak dari colokan:
-
“Tak apa tipu sedikit, asal tetap hidup.”
-
“Tak apa kampanye terselubung, asal ada daya.”
Sementara nilai dan akal sehat disimpan di folder “nanti saja.”
9. Politik Mikro di Colokan Publik
Di stasiun, bandara, hingga ruang sidang, colokan jadi simbol mikro-politik: siapa yang duluan colok, siapa yang disuruh cabut, siapa yang bawa adaptor sendiri.
Mungkin demokrasi memang dimulai dari colokan.
Siapa yang terbiasa berbagi daya, akan terbiasa mendengarkan orang lain.
Sebaliknya, siapa yang curang di colokan kecil, bisa curang di pemilu besar.
10. Daya Batin di Era Plug-and-Play
Ada perbedaan antara mengisi baterai dan mengisi batin.
Baterai penuh bisa membuatmu aktif di media sosial, tapi batin penuh membuatmu berani diam ketika dunia sedang ramai.
Baterai butuh charger, batin butuh makna.
Sayangnya, di era kampanye absurd, keduanya tertukar:
Batin di-charge dengan buzzer, sementara ponsel di-charge dengan doa.
11. Bukti dan Rujukan Nyata
Sebuah riset dari Datareportal (2024) menyebutkan, lebih dari 62% masyarakat Indonesia menerima pesan politik melalui grup WhatsApp dan media sosial pribadi.
Artinya, colokan kampanye bukan lagi sekadar spanduk atau baliho—tapi infrastruktur digital di genggaman tangan kita.
Dan seperti charger curang, sebagian besar pesan itu tak memiliki proteksi keamanan: daya bisa masuk, tapi juga bisa merusak sistem berpikir.
12. Dari Charger Curang Menuju Kesadaran
Mungkin charger curang hanyalah metafora kecil dari cara kita menjalani hidup: cepat, instan, dan tanpa refleksi.
Namun, di tengah absurditas itu, kita masih punya pilihan untuk “mengisi daya dari sumber yang benar.”
Kesadaran politik tidak datang dari kampanye besar, tapi dari kesadaran kecil setiap kali kita menolak colokan curang.
Dari kejujuran untuk bertanya:
“Apakah saya sedang diisi, atau sedang disedot?”
Refleksi: Kita dan Arus yang Tak Pernah Netral
Kita hidup dalam dunia di mana energi tak pernah gratis.
Setiap klik, setiap like, setiap kabel yang menempel adalah bentuk transaksi kecil antara nurani dan kepentingan.
Namun, absurditas justru mengajarkan kita untuk tertawa—agar tak terbakar oleh panas arus curang itu sendiri.
Seperti charger di ruang sidang tadi, mungkin hidup hanyalah soal menemukan colokan yang tak menghisap balik.
Bukan sekadar agar ponsel menyala, tapi agar kesadaran tetap hidup.
Kesimpulan: Optimis di Tengah Arus
Optimisme bukan berarti menutup mata dari colokan palsu, tapi berani mencabutnya.
Teknologi bisa curang, manusia bisa salah, tapi kesadaran selalu bisa diisi ulang.
Yang penting: jangan biarkan charger curang mengisi masa depan kita.
Call to Action (CTA): Ajakan Merenung
Mari kita renungkan hari ini—
Siapa saja yang sudah mencolok ke batinmu tanpa izin?
Apakah daya hidupmu bertambah, atau justru habis perlahan?
Jika jawabannya membuatmu tersenyum absurd, berarti kamu sudah satu langkah lebih sadar dari kemarin.
© 2025 Jeffrie Gerry | Satire Monolog Studio
