Tiga Cara Menjadi Manusia Berguna
(Monolog reflektif oleh Jeffrie Gerry — Studio Satire Monolog)
Aku pernah bertanya kepada hidup,
“Bagaimana caranya menjadi manusia yang berguna?”
Hidup menjawab tanpa suara, hanya dengan luka, keringat, dan air mata.
Baru setelah itu aku mengerti,
bahwa berguna bukan soal seberapa banyak yang kita punya,
tapi seberapa dalam kita mau memberi —
dalam kata, dalam tindakan, dan dalam pengorbanan.
1. Menolong Lewat Kata
Dulu aku kira kata hanyalah bunyi yang lewat,
sampai aku melihat seorang teman yang hampir menyerah,
kemudian tersenyum hanya karena aku berkata:
“Masih ada harapan, jangan berhenti sekarang.”
Ternyata, satu kalimat sederhana bisa menyelamatkan satu jiwa.
Kata yang tulus bukan sekadar bunyi,
ia adalah doa yang menembus dinding putus asa.
Kadang, menolong tidak harus dengan uang atau tenaga —
cukup dengan kata yang lahir dari hati yang pernah luka,
yang tahu rasanya hancur tapi tetap memilih untuk bicara lembut.
Kata yang baik itu seperti air:
ia mencari celah terkecil di hati orang lain, lalu menumbuhkan kehidupan.
Dan aku belajar, bahwa lidah manusia bisa jadi pedang,
tapi bisa juga jadi balsem.
Aku memilih menjadi balsem —
karena dunia sudah terlalu banyak berdarah.
2. Menolong Lewat Tindakan
Namun kata saja tak cukup.
Kadang, dunia menutup telinga dan berkata:
“Buktikan.”
Maka aku belajar menolong lewat tindakan —
bukan karena aku lebih kuat,
tapi karena aku tahu bagaimana rasanya dibiarkan.
Aku pernah memberi waktu di saat aku sendiri kelelahan,
menopang pundak orang lain padahal kakiku gemetar.
Dan anehnya, saat aku menolong,
rasa sakitku perlahan berkurang.
Tindakan itu tidak selalu besar.
Kadang hanya mengangkat kursi untuk orang tua,
menyapa dengan senyum,
atau mendengarkan tanpa menghakimi.
Tindakan-tindakan kecil itulah yang membangun peradaban manusia —
bukan pidato, bukan teori, tapi gerakan sunyi yang konsisten.
Menolong lewat tindakan adalah bentuk kasih yang tak butuh panggung.
Ia hanya butuh keberanian untuk hadir,
ketika dunia sibuk mencari alasan untuk pergi.
3. Menolong Lewat Pengorbanan
Dan akhirnya, aku sampai pada tahap ketiga: pengorbanan.
Bagian ini tidak romantis.
Tidak ada tepuk tangan, tidak ada balasan.
Kadang malah kesepian.
Namun di situlah nilai tertinggi dari kebaikan —
melakukan sesuatu yang benar,
walau tak ada yang melihat.
Aku pernah kehilangan banyak hal
karena memilih membantu orang lain.
Tapi aku juga menemukan sesuatu yang lebih dalam:
ketenangan yang tidak bisa dibeli.
Karena setiap kali aku memberi tanpa pamrih,
aku merasa sedikit lebih hidup,
dan dunia terasa sedikit lebih baik.
Pengorbanan mengajarkan bahwa cinta sejati bukan soal kepemilikan,
tapi soal keberanian untuk melepaskan.
Bahwa menolong tidak selalu membuat kita utuh,
tapi justru membuat kita bermakna.
Refleksi Penutup
Kini aku tahu,
berguna bukan soal menjadi terkenal, kaya, atau pintar.
Berguna berarti:
kata-katamu menumbuhkan,
tindakanmu menenangkan,
dan pengorbananmu meninggalkan jejak yang tidak bisa dihapus waktu.
Aku tidak ingin dikenal sebagai orang hebat,
cukup sebagai seseorang yang ketika pergi,
dunia terasa sedikit lebih ringan.
Dan kalau suatu hari nanti aku ditanya oleh Sang Pencipta,
“Untuk apa kau hidup di bumi?”
Aku ingin menjawab dengan sederhana:
“Aku tidak selalu pintar, Tuhan.
Tapi aku sudah berusaha berguna.”
Jeffrie Gerry
