Hutan yang Berdoa, Tapi Manusianya Sibuk Membakar

 


Meta Description :

Hutan yang berdoa dalam keheningan; manusia yang sibuk membakar. Esai satir penuh harapan tentang bagaimana kita bisa mendengar suara hutan hijau yang terluka dan ikut bertindak.


Hutan yang Berdoa, Tapi Manusianya Sibuk Membakar

(oleh Jeffrie Gerry)

Bayangkan sebuah hutan hijau yang sunyi: pepohonan rimbun, dedaunan berdesir perlahan, sinar matahari menembus celah–celah kanopi, dan udara penuh harapan—seolah hutan itu sendiri sedang bermunajat. Suasana hutan hijau berpadu harapan itu hadir sebagai latar cerita kita; namun, di luar hutan itu, manusia sibuk membakar—membakar pepohonan, membakar harapan, membakar keheningan.

Esai ini adalah undangan untuk mendengar hutan yang “berdoa”, sekaligus cermin terhadap manusia yang terlalu sibuk. Dari sudut pandang semi-objektif, mari kita menjelajahi: apa suara hutan itu, mengapa manusia tampak tak mendengarnya, dan—yang paling penting—apa 12 langkah praktis yang bisa kita lakukan agar suara itu tak hilang dalam asap.


1. Hutan hijau, doa yang tak tertahankan

Ketika kita memasuki sebuah hutan yang hijau, kita sering terpesona oleh keindahan: warna-warna daun, cahaya remang, aroma tanah basah. Namun lebih dari itu: kita seharusnya mendengar bisikan tersembunyi—hutan yang berdoa, bukan dalam kata-kata, tapi dalam keberadaan. Sebagaimana The Forest Unseen: A Year’s Watch in Nature (David G. Haskell) menyatakan:

“To love nature and to hate humanity is illogical. Humanity is part of the whole.” (hal. ? dalam edisi asli) Goodreads+1
Dengan kata lain, hutan dan manusia sebenarnya saling terhubung; tapi manusia sering lupa bahwa hutan tak hanya latar belakang—hutan adalah komunitas hidup yang menunggu untuk didengar.

Dalam suasana penuh harapan di hutan hijau, pepohonan membuka diri seperti lengan yang menggapai langit, dedaunan bergemerisik dalam doa tak bersuara kepada angin. Namun, di luar itu, manusia beralih ke pembakaran, deforestasi, aktivitas-yang-terganggu. Seolah hutan yang berdoa itu dipaksa bersuara keras agar didengar—damai namun mendesak.


2. Manusianya sibuk, suara hutan tertutup asap

Manusia memiliki pekerjaan, kesibukan, ambisi; kita memiliki rencana pembangunan, produksi, ekonomi. Namun ketika kita membakar hutan, secara harfiah atau kiasan, kita menekan doa hutan tersebut. Kita mengganti keheningan dengan sela-api. Statistik dan laporan internasional menunjukkan tren ini: misalnya bahwa kerusakan hutan global makin parah, dan “hutan adalah AC dunia ini” seperti dikatakan oleh beberapa tokoh lingkungan. Earth.Org+1

Dengan gaya satir yang lembut, saya membayangkan pepohonan saling berbisik: “Kalian sibuk, kami sabar. Tapi sabar kita punya batas.” Dan manusia menjawab: “Tenang saja, kita lanjutkan saja proyek ini.” Tak heran jika doa hutan itu mulai terdengar sebagai tangisan; bahkan sebagai protes yang tak berwajah—karena manusia tak menggubrisnya.


3. Kenapa kita tak mendengar?

Beberapa faktor membuat suara hutan tak terdengar oleh manusia:

  • Kecepatan hidup modern: Kita bergerak terlalu cepat, sehingga keheningan hutan dianggap kosong. Kita tidak memberi ruang untuk mendengarkan.

  • Pemisahan manusia-alam: Banyak orang memandang alam sebagai objek, bukan sebagai mitra. Haskell menegaskan bahwa menje­lahkan alam sebagai mesin adalah kesalahan. Bookey+1

  • Kebutuhan ekonomi jangka pendek: Manusia memilih hasil cepat—tebang, bakar, ganti dengan mono-tanaman. Hutan hijau yang berdoa tak dianggap sebagai aset hidup jangka panjang.

  • Kehilangan empati ekologis: Saat pohon ditebang, manusia sering melihat “kayunya” bukan “suara yang hilang”.

Dalam narasi hutan hijau penuh harapan ini, kita harus memaksa diri untuk mendengar—dan itu berarti melambat, berarti memberi ruang, berarti merendah.


4. Sudut pandang semi-objektif: antara hutan dan manusia

Sebagai penulis (Jeffrie Gerry), saya berdiri di antara dua dunia: hutan yang hidup dan manusia yang sibuk. Saya mencoba bersikap semi-objektif: bukan murni aktivis tak kompromi, tapi juga bukan pengamat pasif. Saya percaya hutan memang sedang “berdoa”—dalam arti metaforis—dan manusia bisa memilih untuk bersikap responsif atau tetap melakukan pembakaran.

Kita akan mengupas realitas: fakta bahwa deforestasi terjadi, bahwa hutan-hutan kita (termasuk di Indonesia) punya potensi luar biasa, dan bahwa kita pribadi punya peran. Bukti nyata: buku seperti “The Forest Unseen” memberi wawasan. Maka, pendekatan ini mencoba menggabungkan fakta dan sastra, satir dan harapan, kekecewaan dan optimisme.


5. Bukti dan rujukan nyata

Untuk tidak sekadar melantang emosi, kita perlu bukti:

  • Buku “The Forest Unseen” karya Haskell menunjukkan bagaimana satu meter persegi hutan bisa memberi pelajaran besar. salticid.com+1

  • Situs kutipan lingkungan mencatat: “Destroying rainforest for economic gain is like burning a Renaissance painting to cook a meal.” – E. O. Wilson. Earth.Org

  • Dalam kutipan lain: “The forest is a peculiar organism of unlimited kindness … it offers shade even to the axe-man who destroys it.” – Gautama Buddha. ecobnb.com

Semua ini mendukung narasi bahwa hutan bukan sekadar kumpulan kayu, tapi komunitas hidup yang sabar dan menunggu. Dan manusia punya pilihan.


6. Hutan hijau dan harapan yang tumbuh

Selama kita membiarkan hutan hijau tetap ada—akan ada harapan. Harapan itu bukan naif; harapan itu adalah modal pragmatis. Hutan menyimpan karbon, menjaga air, menopang biodiversitas, memberi ruang refleksi manusia. Dengan emosi penuh harapan, kita bisa menatap hutan dan berkata: “Kita bisa berubah.” Hutan akan “bersyukur”, meskipun ia tak bersuara seperti manusia.

Ketika pepohonan berdoa, mungkin mereka tidak mengangkat tangan, tapi mereka menghembuskan napas, mereka menumbuhkan tunas baru, mereka memberi naungan. Sebuah hutan hijau yang masih berdiri adalah puisi kehidupan—dan kita beruntung masih bisa membacanya.


7. Satire halus terhadap manusia yang membakar

Sedikit satir: bayangkan manusia sebagai pekerja yang sibuk dengan api unggun—“Oh, kita bakar dulu supaya lahan lebih luas.” Sementara hutan, di sudut lain, mendekam, memohon: “Tolong, jangan dulu, beri aku waktu.” Tapi manusia tidak dengar. Orang bilang: “Kami me­bangun ekonomi. Kayu, tanah, proyek.” Hutan pun mungkin bergumam: “Ekonomi apa yang tak punya pohon?” Namun manusia sangat sibuk sehingga gumaman itu seperti suara serangga kecil di tengah mesin yang berdengung.

Dengan gaya esai satir ini, saya mengajak pembaca untuk tersenyum tipis—terhadap absurditas manusia yang terobsesi membakar, sementara hutan hijau sabar berdoa.


8. 12 Langkah Praktis untuk Bertindak

Berikut ini 12 langkah praktis yang bisa Anda lakukan agar suara hutan hijau yang berdoa tidak tertutup asap manusia:

  1. Melambat sejenak di hutan atau pepohonan kota
    Sisihkan 20 menit di bawah pepohonan—dengarkan angin, hirup aroma tanah. Memberi ruang pada doa hutan.

  2. Memilih produk kayu berkelanjutan
    Pastikan kayu yang Anda gunakan berasal dari pengelolaan hutan terjamin. Dengan kata lain, hutan hijau ini punya kesempatan hidup.

  3. Menanam pohon lokal di lingkungan Anda
    Bahkan di halaman rumah atau komunitas, menanam pohon menjalin kembali hubungan manusia-hutan.

  4. Membakar ide, bukan pepohonan
    Alihkan energi “membakar” menjadi ide kreatif: inovasi ramah lingkungan, kampanye sadar hutan.

  5. Mendukung kelompok/organisasi konservasi
    Cari lembaga yang aktif melestarikan hutan—dukungan Anda memperkuat doa hutan.

  6. Mengurangi konsumsi-besar (mono-tanaman) dan mendukung agro-ekologi
    Sistem agro-ekologi lebih ramah terhadap hutan yang berdoa.

  7. Mengedukasi komunitas tentang suara hutan
    Bagikan cerita hutan hijau yang penuh harapan—karena ketika banyak orang mendengar, tindakan pun meningkat.

  8. Mendorong kebijakan lokal yang lindungi hutan
    Ajukan ke pemerintah daerah, karena hutan hijau juga ada di wilayah Anda.

  9. Melakukan monitoring atau citizen science
    Ikut program pengamatan hutan atau daftar flora-fauna agar suara hutan terekam.

  10. Mengurangi jejak karbon pribadi
    Transportasi, konsumsi energi, makanan—semua memiliki dampak terhadap hutan.

  11. Mengapresiasi hutan sebagai ruang spiritual/temporal
    Jadikan hutan atau pepohonan sebagai ruang refleksi, bukan hanya sumber daya.

  12. Meneruskan cerita ini ke generasi berikut
    Ajarkan anak-anak bahwa hutan hijau itu berdoa—dan manusia punya tanggung-jawab mendengarkannya.

Setiap langkah mungkin kecil secara individu, tetapi ketika dilakukan bersama, mereka membentuk gelombang. Harapan dalam hutan hijau terwujud ketika manusia berhenti membakar, mulai mendengar.


9. Tantangan yang Harus Dihadapi

Tentu saja, tidak semua mudah. Tantangan-nya meliputi:

  • Konflik ekonomi jangka pendek vs jangka panjang

  • Kepentingan industri yang besar

  • Kurangnya kesadaran atau rasa urgensi

  • Tuntutan pembangunan yang dipersepsikan harus cepat

Namun, dengan langkah-praktis di atas dan sikap penuh harapan, kita bisa menghadapi tantangan itu sebagai bagian dari proses. Hutan yang berdoa tidak menuntut keajaiban; ia menuntut keberlanjutan.


10. Kisah Inspiratif Pulihnya Hutan

Masih ada kisah bahwa manusia bisa menjadi sahabat hutan. Dalam buku The Man Who Planted Trees (Jean Giono) diceritakan tentang seorang gembala yang menanam ribuan pohon dan mengubah lembah tandus menjadi lembah hijau dalam beberapa dekade. Wikipedia Ini menjadi metaphor bahwa hutan hijau yang berdoa bisa dijawab jika manusia memilih mendengar dan bertindak. Kisah ini memberi inspirasi bahwa regenerasi bisa terjadi—harapan memang nyata.


11. Kenapa Harapan Itu Layak Dipilih

Dalam suasana hutan hijau penuh harapan, kita menemukan bahwa harapan bukan kepalsuan—melainkan bahan bakar untuk perubahan nyata. Menyerah bukan pilihan karena hutan yang berdoa masih ada, manusia masih punya tangan, hati, pikiran untuk berubah. Bahkan jika manusia sedang sibuk membakar, kita bisa memilih untuk berhenti, memilih untuk mendengar, memilih untuk bertindak.

Harapan ini dibangun pada fakta: hutan memberikan layanan ekosistem, menyimpan karbon, mendukung biodiversitas, menjadi ruang spiritual. Maka berinvestasi pada harapan berarti menjaga modal kehidupan jangka panjang—untuk manusia dan hutan.


12. Menyusun Masa Depan dengan Hutan dan Manusia

Akhirnya, kita sampai pada sebuah visi: hutan hijau yang hidup berdampingan dengan manusia yang sadar. Sebuah masa depan di mana kita tidak lagi membakar karena kita tahu nilai hutan lebih dari kayu; di mana kita tidak menganggap hutan sebagai latar belakang, melainkan sebagai partisipan dalam kisah kita.

Dalam visi ini, manusia sibuk bukan membakar, tapi mendengar, merawat, menghasilkan. Hutan berdoa—melalui dedaunan yang bergerak di cahaya senja, melalui hembusan angin dalam kanopi, melalui tumbuhan dan makhluk kecil yang hidup di sana. Dan manusia merespons dengan tindakan konkret, bukan hanya ucapan.


Kesimpulan: Optimis

Meski kondisi sekarang sering terasa berat—hutan yang hilang, manusia yang masih membakar—saya memilih untuk optimis. Saya percaya bahwa hutan yang berdoa belum kehilangan seluruh suara-nya, dan manusia yang sibuk masih punya waktu untuk mendengar. Dengan langkah-praktis, dengan sikap penuh harapan, dengan pengakuan bahwa kita dan hutan adalah satu komunitas—kita bisa merajut kisah baru. Kisah di mana hutan hijau tetap berdiri, dan manusia berubah dari pembakar menjadi pendengar.


Call to Action: Ajakan Merenung

Sebagai penutup, saya mengajak Anda—ya, Anda yang membaca artikel ini—untuk merenung sejenak: ketika terakhir kali Anda berdiri di bawah kanopi pepohonan, apakah Anda mendengar hutan yang berdoa? Apakah Anda memilih untuk membiarkan suara itu terus terdengar atau tersapu oleh asap aktivitas manusia? Luangkan waktu, ambil langkah kecil, dan jadilah bagian dari perubahan. Hutan hijau sedang menunggu. Adakah kita mendengar?

jeffriegerry12@gmail.com

Halo, saya Jeffrie Gerry, seorang penulis yang jatuh cinta pada kata, terutama kata yang bisa membuat orang berpikir sambil tersenyum — atau tersenyum sambil berpikir. Saya menulis satire monolog, karena di sanalah saya menemukan cara paling jujur untuk berbicara dengan kehidupan. Kadang lucu, kadang getir, kadang seperti bercermin di genangan air yang memantulkan wajah sendiri — sedikit kabur, tapi nyata. Perjalanan saya menulis dimulai bukan dari ruang nyaman, melainkan dari perenungan panjang dan peristiwa-peristiwa hidup yang mengubah cara pandang saya terhadap dunia.

Posting Komentar

“Tidak semua orang bisa bicara dengan ChatGPT, walau tahu namanya. Butuh kesabaran, intuisi, dan keberanian untuk membuatnya mengerti bahasa manusia — bahasa hati.”
— Jeffrie Gerry | Studio Satire Monolog

“AI bukan untuk diperintah, tapi diajak bicara.
Perlakukan dia seperti mesin, maka jawabannya kaku.
Perlakukan dia seperti manusia, maka ia akan jadi cermin kecerdasanmu sendiri.”
— Jeffrie Gerry, Filsuf Prompt Era Industri 5.0

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak