Sungai yang Belajar Bahasa Plastik
Oleh Jeffrie Gerry | Rubrik: Refleksi Lingkungan
Pendahuluan: Ketika Sungai Tak Lagi Bicara dengan Air
Ada masa ketika sungai berbicara dalam bahasa air: mengalir, berdesir, memantulkan cahaya matahari pagi, dan bernyanyi kepada batu-batu kecil di dasarnya. Tapi kini, sungai kita belajar bahasa baru — bahasa plastik. Bahasa yang tidak larut, tidak mengalir, dan tidak hidup. Ia mengapung, menumpuk, menyumbat, dan perlahan membungkam nyanyian yang dulu menenangkan pendengarnya.
Aku pernah berdiri di tepi sungai di pinggiran kota industri, yang airnya berubah warna setiap hari — merah pada Senin, hijau pada Rabu, dan hitam pada Jumat. Sungai itu seperti pelajar yang terpaksa belajar kosa kata baru dari dunia modern: kantong plastik, botol deterjen, sedotan bengkok, dan serpihan mikro yang tak kasatmata.
Sebuah bangsa bisa diukur bukan dari tinggi gedungnya, tapi dari jernihnya sungai yang mengalir di bawahnya. Sayangnya, kita justru bangga ketika pabrik-pabrik menyalakan lampu malamnya, bukan ketika anak-anak bermain di air yang bersih.
Dan di tengah semua ini, sungai mulai belajar bahasa plastik, karena manusianya terlalu sibuk menulis puisi tentang kemajuan, tapi lupa membersihkan tinta yang tumpah ke alam.
Suasana: Sungai yang Tercemar Limbah Industri
Suatu sore, aku berdiri di jembatan tua yang melintasi sungai kecil di kawasan industri. Bau logam bercampur deterjen menusuk hidung. Di antara arus yang lamban, tampak gelembung berwarna pelangi—bukan keindahan, tapi racun yang memantulkan dosa manusia dengan estetika menipu.
Seekor ikan kecil terapung, diam, seperti sedang tidur panjang. Seekor burung bangau berdiri di tepi lumpur hitam, ragu menjejakkan kaki. Di sisi lain, anak-anak bermain bola plastik, dan salah satu bola itu jatuh ke air, hanyut bersama botol kosong sabun cuci.
Ironinya, air itu dulunya adalah sumber hidup mereka. Sekarang, ia menjadi cermin kebiasaan manusia modern yang mencuci dosa lingkungan dengan air yang sama mereka cemari.
Emosi yang muncul bukan sekadar marah. Ada getir, ada sesal, ada rasa malu yang tidak bisa diucapkan. Sebab, yang kotor bukan hanya sungainya—tapi hati manusia yang membiarkan plastik menjadi bahasa sehari-hari bumi.
Kutipan Nyata
“Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang kita, kita meminjamnya dari anak cucu kita.”— David Suzuki, dalam buku “The Sacred Balance: Rediscovering Our Place in Nature” (halaman 47)
Kutipan itu terasa seperti tamparan lembut yang penuh makna. Manusia sering merasa sebagai pemilik bumi, padahal hanya tamu yang diberi waktu singkat untuk menjaga rumah bersama. Namun, alih-alih menjaga, kita justru menambah utang kepada generasi mendatang—utang berupa plastik, racun, dan air mati.
Sungai dan Bahasa yang Hilang
Bayangkan jika sungai bisa berbicara. Ia mungkin akan berkata,
“Dulu aku pandai berbicara tentang kehidupan. Kini aku hanya bisa mengucapkan kata ‘limbah’.”
Sungai yang belajar bahasa plastik tidak lagi mengenal istilah “bersih” atau “mengalir.” Ia hanya tahu “terkontaminasi” dan “tersumbat.” Dalam diamnya, sungai seperti guru tua yang muridnya tidak lagi menghormati pelajaran.
Ketika dua bahasa ini bertemu, terjadi benturan. Dan dalam benturan itu, manusia menjadi penerjemah yang gagal: kita ingin kemudahan, tapi menolak tanggung jawab.
Narasi Reflektif: Siapa yang Mengajari Sungai Bahasa Ini?
Bukan sungai yang ingin belajar bahasa plastik, tapi manusialah gurunya.
Seperti anak kecil yang mengulang kata kasar yang didengarnya dari orang dewasa, sungai kini mengulang perilaku buruk kita dalam bentuk plastik mengapung dan ikan mati.
Dalam setiap potongan plastik di air, ada sidik jari manusia. Dalam setiap tumpukan limbah, ada nama perusahaan. Dalam setiap gelombang busa, ada jejak peradaban yang kehilangan kesantunan terhadap alam.
Namun, sungai masih sabar. Ia tetap mengalir, meski marah. Ia tetap memberi, meski dilukai. Dalam diamnya, ada harapan yang tak sepenuhnya padam.
Rubrik Tambahan: Mengapa Kita Harus Mendengar Kembali Sungai
Lima Langkah Praktis untuk Mengajar Sungai Bahasa Aslinya Kembali
Berikut lima langkah praktis orisinal yang bisa kita lakukan — bukan teori, tapi refleksi yang bisa dijalani oleh siapa pun.
Langkah 1: Kurangi, Bukan Ganti
Langkah 2: Ciptakan Ritual Air
Langkah 3: Kampanye dengan Tindakan, Bukan Kata
Langkah 4: Desentralisasi Kesadaran
Langkah 5: Beri Bahasa Baru pada Plastik
Bukti dan Referensi Nyata
Namun, di beberapa daerah seperti Banyuwangi dan Banjarmasin, program “Bank Sampah Sungai” mulai memberi harapan baru. Warga menukar plastik dengan sembako, dan anak-anak mulai melihat sampah bukan sebagai beban, tapi bahan untuk belajar tanggung jawab.
Itu bukti bahwa manusia bisa memperbaiki, jika mau mengakui kesalahannya.
Refleksi Penutup: Sungai Masih Bisa Belajar Bahasa Cinta
Kesimpulan: Optimis dalam Arus yang Tercemar
Sebab, selama air masih mengalir — meski lambat, meski keruh — harapan tetap hidup.