Pohon Tua yang Mengajarkan Sopan Santun kepada Pabrik

 


Pohon Tua yang Mengajarkan Sopan Santun kepada Pabrik

Meta description: Sebuah narasi reflektif di kampus hutan berhadapan dengan pabrik—bagaimana pohon tua menjadi guru sopan santun bagi dunia industri.


Oleh Jeffrie Gerry

Aku berdiri di pinggir kampus hutan — bukan kampus konvensional dengan ruang kuliah dan bangku kayu, melainkan sebidang kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan pabrik besar. Suara mesin dari pabrik itu menggelegar, mengecup hutan dengan dentuman logam dan uap yang menyembur. Aku rasa amarahku tumbuh seperti akar yang mencakar tanah: marah melihat bagaimana pabrik menembus batas-batas alam, bagaimana manusia lupa berbicara dengan alam.

Tapi di antara kerikil, debu, dan uap panas yang menjilat batang-batang pohon kecil, tampak dia: sebuah pohon tua — sebatang pohon besar yang sudah lama hidup di sana sebelum pabrik hadir. Dia berdiri tegak, kokoh, dengan kulit kayu retak-retak, ranting patah, dan akar yang membelit remah tanah. Aku memanggilnya “Guru Tua”.

Dalam narasi ini, aku mengajak diri saya sendiri — dan anda yang membaca — untuk masuk ke dalam perjalanan reflektif: bagaimana pohon tua itu bisa mengajarkan sopan santun (keterbukaan, penghormatan, tanggung-jawab) kepada pabrik, kepada manusia industri, kepada kita semua. Aku akan menampilkan enam langkah praktis yang saya tangkap dari pengamatan saya, dan berbagi solusi serta inspirasi bagaimana kita bisa menjembatani antara alam dan industri tanpa kehilangan sopan santun kemanusiaan dan kemakhluk-alamaan.


1. Menunduk Mendengar Rindang, bukan Menggerus Tanah

Aku mulai dengan duduk bermenung di bawah naungan pohon tua di kampus hutan—udara dingin merambat, dedaunan bergemerisik seperti bisik-bisik yang lelah. Suara pabrik di kejauhan seperti intrusi, membuat saya makin sadar bahwa pohon tua itu telah hadir jauh sebelum batu beton pabrik dibangun.

Seperti ungkapan dari Hermann Hesse—“Trees are sanctuaries. Whoever knows how to speak to them, whoever knows how to listen to them, can learn the truth.” (Hesse, Bäume: Betrachtungen und Gedichte, hal. ?) Goodreads+1 Pohon tua mengundang kita untuk mendengar, bukan hanya mendominasi. Dalam suasana penuh amarah melihat pabrik, saya menyadari bahwa langkah pertama adalah menunduk — mendengar suara daun, akar, bahkan jam-jam ringkih pohon yang menua.

Praktisnya: Industri (atau siapa pun yang punya kuasa) bisa melakukan survei partisipatif: bukan hanya mengukur emisi atau efisiensi, tapi mendengar “keluh” pohon, mendengar tetangga hutan, mendengar masyarakat di sekitar. Dengan mendengar, sopan santun pertama muncul: penghormatan terhadap keberadaan yang bukan manusia.


2. Mengangkat Kaki Akar dan Memahami Keterhubungan

Pohon tua itu akarnya menjulur ke mana-mana: melewati batuan, menembus tanah liat, merambat di bawah pabrik hingga ke aliran air kecil. Saya menatap akarnya dan merasa seperti melihat sistem pabrik yang ribuan pipa dan saluran: semua terhubung. Tapi akarnya pohon tidak menjajah—ia hanya berada, berpaut, memberi dukungan bagi pohon, hutan, ekosistem.

Dalam kampus hutan ini, pabrik muncul sebagai “tamu besar” yang seolah berdiri sendiri. Tapi pohon tua menunjukkan bahwa tidak ada yang benar-benar berdiri sendiri. Industri tak bisa menutup mata terhadap akar masyarakat, akar ekosistem, akar moral.

Praktisnya: Pabrik dapat merancang program akar lingkungan—memetakan bagaimana aktivitas produksi berdampak pada akar sosial dan ekologis. Contohnya: audit akar masyarakat—bagaimana limbah, suara, panas, polusi mempengaruhi akarnya masyarakat sekitar. Ini menunjukkan sopan santun: tanggung-jawab terhadap sistem yang lebih luas.


3. Memetik Bayangan, Bukan Menebang Badan

Hari semakin siang. Matahari menyengat. Saya melihat pohon tua memayungi sebagian tanah kampus hutan, meski tak banyak. Pabrik di seberang membuka pintu besar, memuntahkan asap. Amarah saya memuncak: “Mengapa alam terus diminta menunduk?” Namun pohon tua tetap tenang. Tubuhnya sudah terbakar sedikit, ranting patah—tapi ia tetap berdiri, tetap memberi bayangan.

Kutipan Hesse lagi: “For me, trees have always been the most penetrating preachers…” Goodreads Pohon tua tak memaksa, tidak menuntut ganti rugi; ia hanya ada, memberi. Pabrik bisa belajar dari itu: bukan menebang alam atau memaksanya berubah demi efisiensi sesaat, tapi memetik bayangan—menghasilkan tanpa menghancurkan.

Praktisnya: Pabrik menerapkan prinsip bayangan produksi: untuk setiap kg produk, berapa bayangan ekologis yang harus dilindungi? Misalnya, memastikan pohon yang terbayang oleh aktivitas produksi tumbuh lagi atau dilindungi. Ini adalah bentuk sopan santun: hormat terhadap konsekuensi produksi.


4. Menyulam Luka Kulit Kayu dengan Jaring Kehidupan

Kulit kayu pohon tua itu retak—bekas api, bekas angin kencang. Tetapi pada celah-celah itu tumbuh lumut, tanaman kecil, sampai serangga dan burung kecil. Saya melihat bagaimana alam menyulam luka dengan jaring kehidupan yang baru. Sedangkan di sisi pabrik, lubang-lubang produksi menjadi tempat limbah, saluran terbuka, tumpukan abu. Saya merasakan amarah: bagaimana manusia bisa begitu ceroboh terhadap luka alam?

Pohon mengajari bahwa luka tak selalu harus dibuang; bisa disulam menjadi bagian dari kehidupan baru. Itu adalah bentuk sopan santun yang dalam: pemulihan, bukan penutup rapat dan diam-selamanya.

Praktisnya: Pabrik bisa membuat program pemulihan lingkungan—mengembalikan lahan yang terdegradasi oleh aktivitas mereka ke bentuk yang lebih baik dari semula. Tidak hanya kompensasi sederhana, tapi penyemaian, penanaman, pelibatan komunitas lokal dalam pemulihan luka alam.


5. Berburu Akar Waktu: Kesabaran di Tengah Dengungan Mesin

Mesin pabrik berdengung, memecah keheningan kampus hutan. Pohon tua berdiri sabar. Ia tahu jamnya berjalan lambat: pertumbuhan batang tak bisa dipercepat sesuai target produksi. Akar menembus setahun-tahun, daun tumbuh selama musim, ranting patah lalu tumbuh lagi.

Ini adalah pelajaran besar: industri sering diukur dengan target cepat, produktivitas, ROI, efisiensi. Tetapi pohon tua mengingatkan bahwa ada akarnya—waktu panjang, kontinuitas, generasi berikutnya. Hesse menulis bahwa “Trees have long thoughts, long-breathing and restful…” Neil Pasricha

Praktisnya: Pabrik menetapkan indikator jangka panjang—bukan hanya produk cepat, tapi dampak lima-sepuluh tahun ke depan. Misalnya: kemakmuran jangka panjang komunitas sekitar, kualitas udara dan air berkelanjutan, keanekaragaman hayati. Dengan begitu muncul sopan santun: tanggung-jawab generasi berikut.


6. Mengundang Dialog antara Kayu dan Baja

Pada akhirnya saya mendekati pohon tua: memegang kulit kayunya yang kasar, mendekatkan telinga, mendengar deru mesin pabrik yang jauh namun nyata. Saya merasakan amarah — terhadap sistem yang memilih keuntungan amat besar tanpa mempertimbangkan kehormatan alam — namun juga muncul kesadaran: tidak mungkin hanya pohon atau masyarakat yang bersuara; harus ada dialog.

Pohon tua mengundang pabrik untuk berbicara, bukan untuk mendikte. Industrinya berbentuk baja, boiler, jalur produksi — tetapi ia manusiawi ketika mau berbicara: buka pintu dialog dengan alam, dengan tenaga kerja, dengan komunitas. Ini adalah ciri sopan santun sejati: komunikasi terbuka.

Praktisnya: Pabrik memasang forum dialog terbuka — pertemuan mingguan atau bulanan antara manajemen, masyarakat hutan, aktivis lingkungan, dan representasi pohon/hutan (lewat organisasi lingkungan). Diskusi bukan sekadar laporan, tapi mendengar keluh dari akar. Dengan demikian, pohon tua dan pabrik bisa saling memahami.


Mengapa pembaca harus peduli?

Anda mungkin bukan pemilik pabrik atau pengurus hutan, tetapi kita semua hidup di jaring besar interaksi manusia-alam-industri. Ketika satu sektor enggan bersopan santun terhadap yang lain, kita semua rugi: udara cepat tercemar, air tercemar, komunitas kehilangan kekayaan alam, pohon-pohon besar dicabut tak berperikemanusiaan.

Dengan mengadopsi enam langkah praktis di atas — mendengar, memahami akar, menghormati bayangan produksi, menyulam luka, sabar mengukur waktu, dialog terbuka — kita bisa menciptakan ekosistem yang bukan hanya produktif secara ekonomi, tapi juga bermartabat. Kita, sebagai pembaca, bisa mulai dari skala kecil: mungkin sebagai warga kampus hutan, masyarakat di dekat pabrik, atau profesional yang peduli.


Rubrik tambahan: “Menjadikan Alam Mitra, bukan Objek”

Rubrik ini menegaskan bahwa pohon, hutan, alam—tidak semata sumber daya yang bisa dieksploitasi. Mereka mitra hidup yang mengajarkan sopan santun: mendengar, menghormati, berdialog, memikul tanggung-jawab. Pabrik yang sukses bukan hanya yang menumpuk laba, tetapi yang menjaga kehormatan mitranya: manusia dan alam.


Kesimpulan

Saya, Jeffrie Gerry, menutup narasi ini dengan optimis. Pohon tua di kampus hutan itu mungkin tak bisa berbicara dengan bahasa manusia, tapi suaranya terdengar jika kita bersedia mendengar. Pabrik di seberang mungkin terlihat dominan, megah, dan tanpa terasa tak berperasaan — namun juga memiliki potensi untuk berubah jika bersedia belajar dari pohon tua. Dengan enam langkah praktis tadi, kita semua memiliki kesempatan untuk menjembatani medan yang tampak bertentangan: alam vs industri.

Saya optimis: kalau setiap pabrik, setiap kampus, setiap masyarakat mau menyentuh akar, menunduk mendengar pohon, berbicara dengan manusia, maka sopan santun akan menjadi fondasi bagi produktivitas yang berkelanjutan dan bermartabat.


Call to Action (CTA):
Saya mengajak Anda untuk merenung sejenak — carilah “pohon tua” di sekitar Anda (di kampus, di kota, di kampung), dengarkan suaranya. Lalu tanyakan: bagaimana saya—atau institusi saya—bisa belajar dari dia? Bagaimana kita bisa mempraktikkan sopan santun di tengah gegap gempita produksi dan kemajuan? Mari kita renungkan bersama.

jeffriegerry12@gmail.com

Halo, saya Jeffrie Gerry, seorang penulis yang jatuh cinta pada kata, terutama kata yang bisa membuat orang berpikir sambil tersenyum — atau tersenyum sambil berpikir. Saya menulis satire monolog, karena di sanalah saya menemukan cara paling jujur untuk berbicara dengan kehidupan. Kadang lucu, kadang getir, kadang seperti bercermin di genangan air yang memantulkan wajah sendiri — sedikit kabur, tapi nyata. Perjalanan saya menulis dimulai bukan dari ruang nyaman, melainkan dari perenungan panjang dan peristiwa-peristiwa hidup yang mengubah cara pandang saya terhadap dunia.

Posting Komentar

“Tidak semua orang bisa bicara dengan ChatGPT, walau tahu namanya. Butuh kesabaran, intuisi, dan keberanian untuk membuatnya mengerti bahasa manusia — bahasa hati.”
— Jeffrie Gerry | Studio Satire Monolog

“AI bukan untuk diperintah, tapi diajak bicara.
Perlakukan dia seperti mesin, maka jawabannya kaku.
Perlakukan dia seperti manusia, maka ia akan jadi cermin kecerdasanmu sendiri.”
— Jeffrie Gerry, Filsuf Prompt Era Industri 5.0

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak